logo

TOMBANG, CERITA YANG TAK PERNAH USAI - Jalan Rusak, Jembatan Putus, Sampai Kapan Beban Masyarakat Harus Dipikul Sendiri?

 


TOMBANG, PASAMAN BARAT — ONE DETIK — Masyarakat Tombang Mudiak, Nagari Sinuruik, Kecamatan Talamau, Kabupaten Pasaman Barat, berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk membangun Jembatan Batang Tiyu yang putus diterjang arus sungai pada Jumat (23/10/2026). Putusnya jembatan yang menghubungkan Kampuang Bateh Somuik dengan Tombang Mudiak tersebut menghambat akses masyarakat sekaligus mengganggu kelanjutan pembangunan jalan yang selama ini diperjuangkan secara swadaya.

Di tengah keterbatasan infrastruktur, masyarakat telah menyelesaikan sekitar 3 kilometer akses jalan menuju Kampung Tombang melalui gotong royong dan swadaya. Warga menyisihkan tenaga, waktu, serta rezeki untuk memperbaiki jalan yang selama bertahun-tahun mengalami kerusakan. Namun, putusnya Jembatan Batang Tiyu kini menjadi kendala baru bagi upaya masyarakat membuka akses yang lebih layak menuju kampung mereka.

Masyarakat berharap Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat dan anggota DPRD Pasaman Barat dari Daerah Pemilihan (Dapil) I, serta instansi teknis terkait segera meninjau kondisi jembatan,  dan memberikan kepastian mengenai rencana pembangunan permanen sesuai kewenangannya.

Tokoh muda Tombang, Apil Kasman, S.E., yang dihubungi melalui WhatsApp, menyampaikan keterangan mengenai kondisi Jembatan Batang Tiyu yang telah lama menjadi perhatian masyarakat. Menurut keterangannya, jembatan tersebut merupakan bangunan lama yang telah beberapa kali diperbaiki secara swadaya.

Ia menyebutkan, Jembatan Batang Tiyu telah mengalami tiga kali rehabilitasi dalam rentang 2020 hingga 2025 dengan Swadaya Masyarakat Tombang. Upaya perbaikan tersebut menunjukkan besarnya kepedulian masyarakat untuk mempertahankan akses penghubung yang sangat dibutuhkan dalam aktivitas sehari-hari.

Harapan terhadap pembangunan jembatan secara permanen juga telah disampaikan sejak beberapa tahun lalu. Berdasarkan informasi masyarakat, Jembatan Batang Tiyu pernah masuk dalam prioritas Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) tingkat kecamatan pada 2022. Namun, hingga Oktober 2026, masyarakat menyebut pembangunan permanen yang diharapkan belum terealisasi.

Bagi warga, persoalan ini bukan hanya menyangkut kerusakan infrastruktur. Terbatasnya akses transportasi turut memengaruhi aktivitas ekonomi, mobilitas warga, dan perjalanan pendidikan anak-anak yang hendak melanjutkan sekolah ke jenjang Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA).

Kondisi serupa juga dihadapi para guru yang setiap hari harus menempuh medan sulit untuk menjalankan tugas pendidikan di Kampung Tombang. Karena itu, keberadaan jalan dan jembatan yang layak menjadi kebutuhan penting untuk menunjang kehidupan sosial, pendidikan, dan ekonomi masyarakat.

Masyarakat Tombang menilai semangat gotong royong harus terus dipertahankan. Namun, swadaya warga tidak dapat menjadi satu-satunya tumpuan dalam menyelesaikan persoalan infrastruktur yang membutuhkan perencanaan teknis, dukungan anggaran, dan pembangunan berkelanjutan.

Penyelesaian sekitar 3 kilometer jalan secara swadaya menjadi bukti bahwa masyarakat telah berupaya melakukan perbaikan sesuai kemampuan mereka. Kini, dukungan pemerintah dibutuhkan agar upaya tersebut dapat berlanjut dan akses penghubung yang terputus bisa kembali berfungsi secara aman dan layak.

Tombang, cerita yang tak pernah usai. Jalan rusak, jembatan putus, dan keterbatasan akses menjadi persoalan yang terus menuntut perhatian. Masyarakat berharap pembangunan tidak berhenti pada usulan dan perencanaan, tetapi diwujudkan melalui langkah nyata yang menjawab kebutuhan warga.

Sampai kapan masyarakat harus memikul sendiri beban keterbatasan akses? Pertanyaan itu kini menunggu jawaban melalui perhatian dan tindak lanjut pemerintah serta instansi terkait.

(D R S)

Tags

advertisement centil

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.