PASAMAN BARAT ONE DETIK— Ancaman abrasi yang selama bertahun-tahun menghantui warga Kampung Pasir Tampang, Nagari Aia Gadang Barat, Kecamatan Pasaman, Kabupaten Pasaman Barat, kini mulai mendapat penanganan. Pembangunan tanggul penahan tebing di sepanjang aliran Sungai Batang Pasaman resmi dimulai, membawa harapan baru bagi masyarakat yang selama ini hidup dalam kecemasan akibat terkikisnya bantaran sungai.
Bagi warga setempat, pembangunan ini bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan langkah penting untuk melindungi permukiman dan menjaga keselamatan masyarakat yang tinggal di kawasan rawan abrasi.
Selama bertahun-tahun, derasnya arus Sungai Batang Pasaman, terutama ketika debit air meningkat pada musim hujan, telah mengikis lebih dari 100 meter lahan di sepanjang bantaran sungai. Kondisi tersebut semakin mengkhawatirkan karena jarak antara aliran sungai dan sejumlah rumah warga kian menyempit.
Ketua Pemuda Kampung Pasir Tampang, Tamrin, menyambut dimulainya pembangunan tersebut dengan rasa syukur. Ia menyebut, kehadiran tanggul telah lama dinantikan masyarakat yang setiap musim penghujan harus menghadapi kekhawatiran terhadap ancaman abrasi.
“Alhamdulillah, pembangunan tanggul yang selama ini kami harapkan akhirnya mulai dikerjakan. Masyarakat sudah cukup lama merasa waswas, terutama ketika hujan turun dan debit air sungai meningkat. Kami berharap pembangunan ini benar-benar memberikan perlindungan bagi warga,” ujar Tamrin kepada wartawan, Jumat (16/10/2026).
Kekhawatiran serupa disampaikan Karani, salah seorang warga yang rumahnya berada tepat di tepi aliran sungai. Ia mengungkapkan bahwa jarak antara rumahnya dengan bibir sungai saat ini hanya tersisa sekitar lima meter. Menurutnya, kondisi tersebut menimbulkan kecemasan tersendiri, terlebih ketika arus sungai semakin deras. Ia khawatir, jika abrasi terus berlanjut tanpa penanganan yang memadai, rumah yang ditempatinya terancam rusak bahkan roboh akibat tergerus arus.
“Jarak rumah kami dengan bibir sungai tinggal sekitar lima meter. Tentu kami sangat khawatir jika abrasi terus terjadi. Karena itu, kami bersyukur pembangunan tanggul ini akhirnya dimulai. Harapan kami, rumah dan keselamatan masyarakat di sepanjang bantaran sungai bisa lebih terlindungi,” ungkap Karani. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Daerah, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, serta pihak pelaksana yang terlibat dalam pembangunan tersebut. Menurutnya, penanganan abrasi menjadi kebutuhan mendesak bagi masyarakat yang bermukim di kawasan tersebut.
Berdasarkan data yang dihimpun, pembangunan tanggul penahan tebing Sungai Batang Pasaman merupakan program Pemerintah Provinsi Sumatera Barat melalui Dinas Sumber Daya Air dan Bina Konstruksi. Proyek tersebut memiliki nilai kontrak sebesar Rp6.892.345.577 atau sekitar Rp6,89 miliar.
Pelaksanaan pekerjaan dipercayakan kepada CV Arfan Nafisha Pratama, dengan pengawasan oleh CV Jasa Insani Konsultan. Kontrak pekerjaan ditandatangani pada 9 September 2026, dengan jangka waktu pelaksanaan selama 114 hari kalender.
Masyarakat berharap pekerjaan tersebut dapat berjalan sesuai spesifikasi teknis dan jadwal yang telah ditetapkan, sehingga manfaat pembangunan dapat dirasakan secara optimal. Selain itu, kualitas konstruksi dan pengawasan selama pelaksanaan menjadi faktor penting agar tanggul mampu menjalankan fungsinya dalam mengurangi risiko abrasi dan melindungi kawasan permukiman.
Dimulainya pembangunan tanggul menjadi langkah penting dalam menjawab keresahan warga Kampung Pasir Tampang. Masyarakat juga berharap penanganan kawasan sungai tidak berhenti pada pembangunan fisik semata, tetapi diikuti dengan pemeliharaan dan pemantauan kondisi bantaran sungai secara berkala.
Bagi warga yang tinggal hanya beberapa meter dari bibir sungai, keberhasilan pembangunan ini memiliki arti jauh lebih besar daripada selesainya sebuah proyek. Ada rasa aman yang ingin kembali mereka rasakan, ada rumah yang ingin mereka pertahankan, dan ada masa depan keluarga yang ingin mereka lindungi.
Kini, masyarakat menaruh harapan agar pembangunan tanggul Sungai Batang Pasaman dapat menjadi perlindungan nyata bagi permukiman mereka sekaligus langkah berkelanjutan dalam mengurangi risiko abrasi di wilayah tersebut. Bagi warga Pasir Tampang, tanggul ini bukan sekadar bangunan penahan tebing, melainkan harapan agar ancaman yang selama ini menghantui kehidupan mereka tidak lagi menjadi kecemasan setiap musim hujan.
( D R S )

