Pasbar One Detik – Sudah tujuh hari bencana melanda Kecamatan Talamau. Bagi sebagian orang, seminggu mungkin terasa singkat. Tapi bagi warga yang hidup di wilayah terdampak, waktu seolah bergerak jauh lebih lambat. Akses jalan masih terputus, bantuan harus menembus lumpur yang licin, dan aktivitas harian belum bisa berjalan seperti biasa.
Di tengah kondisi yang belum stabil itu, ada satu hal yang membuat warga tetap bertahan , hadirnya orang-orang yang memilih untuk tinggal bersama mereka, bukan sekadar datang sebentar lalu pergi. Salah satunya adalah Theo Satria, anggota DPRD termuda dari Dapil 1 Pasaman Barat. Sejak hari pertama, ia tidak menunggu laporan masuk ke meja kerjanya. Ia langsung turun ke lokasi, berjalan menyusuri jalan berlumpur, menyeberangi titik akses yang putus, dan menyapa warga satu per satu.
Theo melihat sendiri bagaimana ibu-ibu kesulitan mendapatkan air bersih, bagaimana anak-anak harus tidur dalam dinginnya malam di posko sementara, dan bagaimana para lansia bertahan dengan peralatan seadanya. Semua itu membuatnya yakin bahwa ia harus berada di sana—bersama mereka. Setiap hari ia terlibat dalam koordinasi lintas sektor. Ia menghubungi pemerintah daerah, berdiskusi dengan relawan, berkomunikasi dengan tenaga kesehatan, hingga berkoordinasi dengan aparat keamanan. Banyak informasi dari masyarakat ia teruskan langsung kepada pihak terkait agar bantuan bergerak lebih cepat dan tepat sasaran.
Tak jarang, Theo ikut turun memanggul bantuan logistik. Jika kendaraan tak bisa melintas karena jalan licin, ia ikut berjalan kaki bersama relawan. “Kita ingin memastikan bantuan benar-benar sampai kepada masyarakat,” ujarnya saat mengantar logistik. “Kondisinya berat, tapi kebutuhan warga tidak boleh menunggu.”
Bagi warga, Theo bukan cuma hadir sebagai anggota DPRD. Ia datang sebagai seseorang yang benar-benar mau mendengar keluhan mereka. Ada yang melihatnya membantu mengangkat karung beras, ada yang melihatnya memindahkan barang-barang warga, dan ada pula yang melihatnya duduk di posko, sekadar mendengarkan cerita warganya.
Di sisi lain, pemerintah daerah terus bekerja keras membuka akses jalan, mempercepat distribusi bantuan, dan memastikan semua titik terdampak mendapat perhatian. Proses pemulihan memang masih panjang, tapi langkah kecil terus dilakukan setiap hari.
Di Talamau, di antara suara alat berat, langkah para relawan, dan harapan yang tumbuh perlahan, ada satu hal yang terasa jelas: bahwa di tengah bencana, kemanusiaan selalu menemukan jalannya.
(D R S)

