logo

Cahaya dari Rimba: Kisah Energi Hibrida yang Mengubah Hidup Para Penjaga Hutan Sumpur Kudus

 


Sumbar | Di tengah hutan lebat Nagari Sumpur Kudus, Sumatera Barat, masyarakat hidup berdampingan dengan rimba yang mereka jaga turun-temurun. Di bawah kanopi pepohonan setinggi langit, warga desa menjaga 4.862 hektare hutan konservasi, memastikan air tetap mengalir, rotan terus tumbuh, dan kehidupan satwa tidak terganggu. Di sanalah mereka bekerja, menyusuri jalur terjal, memanen rotan, dan melakukan patroli agar hutan tetap lestari. Namun gelap selalu menjadi teman yang tak diinginkan. Tanpa listrik, perjalanan malam berbahaya, bekerja menjadi terbatas, dan seluruh kegiatan bergantung pada baterai yang hanya bertahan sebentar. Tak jarang, dalam sebulan para petani menghabiskan jutaan rupiah hanya untuk membeli baterai demi bisa tetap bekerja di dalam hutan.


Semua berubah ketika sekelompok akademisi dan mahasiswa Program MBKM dari Institut Teknologi Bandung memutuskan untuk turun langsung ke tengah rimba. Dipimpin oleh Dr. Bryan Denov, S.T., M.T., tim pengabdian masyarakat ini datang bukan sebagai tamu, tetapi sebagai mitra yang membawa satu tekad: menghadirkan cahaya bagi masyarakat yang telah lebih dahulu menjaga cahaya kehidupan hutan.


Bersama beliau hadir para akademisi yang mengabdikan ilmunya kepada negeri: Prof. Ir. Syarif Hidayat, M.T., Ph.D., Dr.Eng. Ir. Infall Syafalni, S.T., M.Sc., Dr. Lenny Putri Yulianti, S.T., M.T., dan Prof. Ir. Ramadhani Eka Putra, S.Si., M.Si., Ph.D. Mereka adalah para dosen yang percaya bahwa pengetahuan tidak seharusnya berhenti di ruang kuliah—ia harus berjalan hingga ke tempat-tempat di mana cahaya pengetahuan pernah sulit menjangkau.


Didampingi tim lapangan aktivis rotan (Alfatha Kurniadi), teknisi laboratorium (Sumedi), dan enam mahasiswa STEI ITB—Gregorius Yoga Robianto, Habibie Muhammad Ghifari, Hilary Evelyn Tjandra, Muhammad Luthfii Alghazali, Rafie Naufal Halimi, dan Taqidito Ilham Pratama—tim ini memasuki hutan dengan membawa peralatan, inovasi, dan harapan. Perjalanan panjang, medan berat, dan hujan yang turun tiba-tiba tidak pernah mematahkan semangat mereka. Mereka tahu: cahaya kecil akan berarti besar bagi mereka yang selama ini hidup dalam gelap.


Pada tahun 2024, tim memasang pembangkit listrik tenaga pikohidro yang memanfaatkan aliran sungai kecil di dekat pos patroli. Walau sederhana, pembangkit itu menjadi cahaya pertama yang menembus gelap malam hutan Sumpur Kudus. Namun kebutuhan listrik masyarakat jelas jauh lebih besar daripada yang bisa dipikul satu pembangkit kecil. Karena itu, pada tahun 2025, tim kembali lagi dengan misi yang lebih besar dan teknologi yang lebih matang.


Panel surya kini berdiri tegak di area pos patroli, menghasilkan energi bersih hingga 400 Wp setiap hari. Sistem baterai dan inverter yang mereka rancang membuat pos bisa tetap terang hingga dini hari. Sementara di jalur rotan, yang dulunya gelap gulita dan berbahaya, dipasang panel penerangan otomatis berbasis IoT yang menyala ketika seseorang melintas. Setiap lampu dilengkapi sensor gerak, terhubung melalui LoRa, dan mengirimkan informasi sisa daya ke pos patroli. Ketika baterai melemah, sistem memberi sinyal. Para pemuda nagari pun bisa segera menggantinya dengan baterai cadangan yang telah diisi penuh dari PLTS.


Bagi mereka yang hidup di kota, cahaya mungkin terasa biasa saja. Namun bagi Petani Rotan Sumpur Kudus, cahaya ini adalah simbol harapan. Ia teman perjalanan malam. Ia penjaga keselamatan. Ia bukti bahwa perjuangan mereka menjaga hutan tidak dilakukan sendirian.


Yusuf, salah satu warga yang ikut membantu instalasi, menceritakan bagaimana kehadiran listrik memunculkan kembali semangat pemuda untuk mengenal hutan mereka sendiri. Bagi Pak Datuak dari LPHN Sumpur Kudus, patroli kini tak lagi bergantung pada senter kecil yang sering padam, mereka bisa bekerja lebih aman, lebih luas, dan lebih efektif. Sementara Alfath, aktivis rotan yang memahami denyut hutan, melihat dampak jangka panjang yang jauh lebih besar: energi bersih ini bukan hanya membantu petani, tetapi membantu menjaga biodiversitas yang menjadi alasan mereka menjaga hutan dari generasi ke generasi.


Harapan itu menyebar perlahan. Andri, Wali Nagari Sumpur Kudus, berharap cahaya ini juga menerangi sektor pariwisata yang sedang dibangun kembali—kolam renang alam yang airnya jernih, jalur pendakian yang menembus hutan, dan titik-titik wisata lain yang menunggu disentuh oleh energi terbarukan.


Di tengah rimba yang hening, cahaya-cahaya kecil dari panel surya dan sensor IoT kini menyala, memantulkan kilau harapan. Teknologi yang dibawa dari kampus ratusan kilometer jauhnya kini menjadi bagian dari denyut kehidupan nagari. Ia tidak hanya menerangi jalan, tetapi juga membuka jalan bagi masa depan.


Semua ini berawal dari satu keyakinan sederhana: bahwa cahaya kecil dapat mengubah banyak hal. Bahwa ilmu pengetahuan dapat menetaskan harapan. Dan bahwa ketika kampus dan masyarakat berjalan bersama, rimba pun dapat tersenyum kembali.


Inilah “Cahaya dari Rimba"—kisah inspiratif tentang energi hibrida yang mengubah hidup para petani rotan Sumpur Kudus, dan tentang manusia-manusia yang percaya bahwa masa depan dapat dibangun, dimulai dari dalam hutan.


Kontak:

Dr. Bryan Denov, S.T., M.T.

Dosen STEI ITB 

KK Teknik Ketenagalistrikan

bryan_denov@itb.ac.id

Tags

advertisement centil

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.