PasamanBarat OneDetik - Tragedi kembali menyelimuti aliran Batang Pasaman. Dua orang warga dilaporkan terseret derasnya arus pada Jumat (15/8/2025) sekitar pukul 15.25 WIB. Hingga kini, satu korban asal Kinali, Pasaman Barat ditemukan meninggal dunia, sementara seorang warga asal Rao masih belum berhasil ditemukan.
Tim pencarian dari Basarnas, BPBD, aparat kepolisian, dan masyarakat terus menyusuri sungai dengan penuh harapan. Namun di balik duka ini, muncul tanda tanya besar, mengapa Batang Pasaman kini semakin ganas dan tak terduga?
Warga menyebutkan, beberapa tahun terakhir wajah sungai itu memang berubah. Air yang dahulu jernih kini kerap keruh pekat, debitnya naik turun tanpa kendali. Banyak pihak menduga, aktivitas tambang emas ilegal di hulu sungai menjadi penyebab utama kerusakan. Praktik tambang tanpa izin itu ditengarai tidak hanya merusak ekosistem, tetapi juga memperbesar risiko bencana bagi masyarakat di sepanjang aliran Batang Pasaman.
Material lumpur yang hanyut ke aliran sungai diduga memperparah derasnya arus, terutama saat hujan mengguyur. Tragedi yang menelan korban jiwa ini menjadi alarm keras: kerusakan alam bukan lagi isu semata, melainkan kenyataan pahit yang sudah merenggut nyawa.
Ketua KNPI Pasaman Barat, Tri Tegar Marunduri, angkat bicara. “Kami dari KNPI Pasaman Barat sangat berduka atas musibah ini. Hanyutnya dua warga di Batang Pasaman bukan hanya tragedi kemanusiaan, tetapi juga tanda bahaya bahwa sungai kita tidak lagi aman seperti dulu. Ini harus menjadi perhatian serius bersama.”
Ia menegaskan, musibah ini harus menjadi momentum bagi pemerintah daerah, khususnya Dinas Kehutanan bersama aparat penegak hukum serta lembaga pemerhati lingkungan seperti Walhi Sumbar, untuk lebih tegas menertibkan praktik tambang ilegal. “Jika dibiarkan, bukan hanya lingkungan yang rusak, tetapi keselamatan masyarakat pun akan terus terancam,” tambahnya.
Kini masyarakat menanti langkah nyata dari pemerintah dan aparat penegak hukum dalam menghentikan tambang ilegal yang disebut-sebut menjadi sumber masalah. Sebab, bila dibiarkan, bukan tidak mungkin Batang Pasaman akan terus menyimpan bahaya yang setiap saat bisa mengintai siapa saja.
( D R S )

